Tinkerbench Labs
·2 menit baca·(Diperbarui: 21 Okt 2026)

Concept, Prototype, Live Demo, Beta: Apa Bedanya?

Empat istilah tahap kematangan produk sering tercampur. Catatan ini merangkum perbedaannya dan menjelaskan kenapa tahap tengah tetap berguna, plus kapan boleh dilewati.

#technical-notes
Image

Empat istilah ini sering dipakai bergantian, padahal masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda.

Concept

Masih berupa ide di atas kertas: deskripsi, sketsa, wireframe, atau PRD. Belum ada yang jalan. Tujuannya memvalidasi bahwa ide ini masuk akal dan layak dikerjakan.

Prototype

Versi awal untuk menguji sebagian ide, bisa klik-klikan di Figma atau kode kasar yang jalan di laptop sendiri. Datanya dummy dan boleh jelek. Pertanyaan yang dijawab: bisa dibuat nggak, dan alurnya enak nggak?

Live Demo

Sudah bisa dibuka orang lain lewat URL, biasanya dengan data contoh. Fitur utama jalan, tapi bukan untuk pemakaian sungguhan. Cocok untuk pamer ke calon klien atau recruiter.

Beta

Fitur hampir lengkap dan dipakai pengguna asli dalam jumlah terbatas dengan data asli. Bug masih mungkin muncul, dan memang itu tujuannya: mengumpulkan feedback sebelum rilis resmi.

Urutan kasar

Concept → Prototype → Live Demo / MVP → Beta → Production

Kenapa nggak langsung concept ke production?

Karena tahap tengah mengurangi biaya salah. Kalau idenya keliru, kamu baru tahu setelah semuanya dibangun penuh.

Tahap tengah boleh dipangkas kalau risikonya kecil:

  • Produk kecil yang kebutuhannya sudah dipahami: prototype bisa dilewati.
  • Kerjaan klien dengan requirement jelas dan pemakai sedikit: beta formal sering tidak perlu.
  • Proyek portfolio: concept ke live demo sudah cukup.

Aturannya: makin mahal kalau salah, makin perlu tahap tengah.

Dipakai di Tinkerbench

Di katalog labs, setiap proyek ditandai Concept atau Production. Proyek yang baru punya PRD dan belum jalan ditandai Concept, supaya status yang tampil jujur.